TRASNEWS.COM, PALEMBANG — Sebuah seminar sejarah dengan tema “Situs Kapiten Bong Su di Pulau Kemaro, Sejarah atau Legenda?” kembali membuka lembaran sejarah penting yang selama ini tertimbun narasi populer dan legenda lokal.
Seminar yang dilaksanakan di Rumah dinas Wali Kota Palembang pada 13 Agustus 2025 menghadirkan salah satu narasumber utama, Ir. Ahmad Dailami, yang merupakan zuriat ke-10 Kapiten Bong Su sekaligus pemerhati sejarah dari Nahdlatul Ulama (NU).
Dalam acara itu Ahmad Dailami mengungkapkan sejumlah fakta sejarah yang berkaitan dengan Pulau Kemaro sebagai situs penting dalam sejarah perjuangan bangsa, khususnya dalam konteks Kesultanan Palembang Darussalam dan jejak keturunan Tionghoa Muslim.

Pulau Kemaro: Dari Kerajaan Sriwijaya hingga Perjuangan Melawan Penjajah
Dalam paparan Ir. Ahmad Dailami, Pulau Kemaro bukan hanya dikenal sebagai tempat wisata religi bagi umat Tri Dharma, tetapi juga merupakan lokasi penting dalam sejarah bangsa. Pulau ini merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya sejak abad ke-7 hingga ke-14 Masehi. Setelah Sriwijaya runtuh, wilayah ini sempat menjadi area bebas yang disinggahi bajak laut, termasuk pelayaran Laksamana Cheng Ho pada awal abad ke-15.
Selanjutnya, wilayah ini masuk ke dalam pengaruh Majapahit di bawah pimpinan Ario Damar (1455–1486), dan akhirnya menjadi bagian dari Kerajaan Palembang dan Kesultanan Palembang Darussalam.
Dalam dua periode berbeda, Pulau Kemaro menjadi benteng pertahanan melawan VOC dan Belanda:
- Benteng Manguntama saat melawan VOC (1656–1659)
- Benteng Tambak Bayo saat melawan Belanda (1819–1821)
Kapiten Bong Su dan Jejak 3 Pangeran Dinasti Ming di Palembang
Menurut dokumen silsilah keluarga Baba Palembang, pada masa transisi Dinasti Ming yang digulingkan oleh bangsa Manchu (1644), tiga pangeran dari Tiongkok keturunan Raja Kong Su dari Provinsi Szechuan melarikan diri ke Palembang. Ketiga pangeran tersebut adalah:
- Kapiten Bela – Menjadi Teku Susuhunan/Sunan Abdurrahman, tokoh penting dalam struktur pemerintahan Kesultanan Palembang, dimakamkan di Pulau Bangka.
- Kapiten A Sing – Menjadi pejabat penting dan akhirnya wafat di Palembang, namun dimakamkan di Tiongkok.
- Kapiten Bong Su – Gugur dalam pertempuran melawan Belanda di Pulau Kemaro pada tahun 1659 dan dimakamkan di sana sebagai syuhada.
Kapiten Bong Su diketahui wafat lebih dahulu dibanding kedua saudaranya. Sebagai penghormatan, Kapiten A Sing membangun sebuah makam bergaya arsitektur Tionghoa di Pulau Kemaro pada tahun 1670. Namun, makam ini rusak berat akibat konflik bersenjata pada masa Sultan Mahmud Badaruddin II (1819–1821).
Pulau Kemaro: Ruang Bertemunya Identitas Islam dan Tionghoa
Dalam catatan Prof. Drs. H. Baderil Munir, salah satu zuriat Baba Palembang, Pulau Kemaro pada tahun 1950-an masih menyimpan sisa reruntuhan pemakaman bergaya Tionghoa yang ditutup seng. Baru pada sekitar tahun 1962, Kelenteng Toa Pek Kong Hok Tjing Bio dibangun oleh seorang warga Tionghoa bernama Oei Tjeng Kiat (Kiat Budiman) dari Kelurahan 4 Ulu.
Namun demikian, Ir. Ahmad Dailami menekankan bahwa beberapa identitas dan jejak sejarah Islami di Pulau Kemaro telah hilang, antara lain:
- Hilangnya papan nama kelenteng yang dulu memuat penjelasan sejarah.
- Hilangnya papan larangan dan simbol-simbol budaya Islam lainnya.
Sinergi Budaya dan Toleransi Agama yang Harmonis
Legenda Tan Bun An dan Siti Fatimah yang melekat di Pulau Kemaro memang menjadi simbol kearifan lokal. Namun, menurut Ahmad Dailami, keseimbangan antara budaya Tri Dharma dan budaya Islam harus terus dijaga. Pulau Kemaro seharusnya menjadi cerminan toleransi yang elegan antara dua identitas budaya yang telah berakar kuat dalam sejarah Palembang.
Karena itu, Ahmad Dailami mengusulkan kepada Pemerintah Kota Palembang untuk:
- Menetapkan Pulau Kemaro sebagai situs sejarah nasional.
- Membangun prasasti sejarah yang menjelaskan kronologi dan peristiwa penting di pulau tersebut.
- Mengembalikan identitas budaya dan simbol-simbol Islami yang hilang, khususnya di area kelenteng.
- Membangun sebuah musholla sebagai tempat ibadah umat Islam, agar keberadaan nilai-nilai Islami tetap lestari di tengah dinamika budaya di Pulau Kemaro.**
Penulis : aa & mr. wancik an
Editor : aa | redaksi









