Sejarah Lomba Bidar Palembang dan Dampak Ekonomi dan Sosial Budaya

- Jurnalis

Rabu, 20 Agustus 2025 - 18:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dampak Positif Ekonomi dan Sosial Budaya
Dari Festival Bidar Palembang yang dilaksanakan di Sungai Musi setiap tahun memberikan dampat positif baik bagi Masyarakat maupun pemerintah kota Palembang yaitu :

1. Dampak ekonomi : Pemkot Palembang menargetkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) mencapai 35%. Pada tahun sebelumnya kontribusi dari Festival Bidar PAD-nya mencapai 30%

2. Pemkot Palembang menargetkan wisatawan lokal maupun mancanegara bisa meningkat pada Festival Bidar ini. Bisa mencapai 35 ribu wisatawan baik lokal maupun mancanegara,” ungkapnya.

3. Selain ada Festival Bidar, ada juga Festival Perahu Hias dan ada pameran UMKM. Pada pameran UMKM ini juga diharapkan dapat menumbuhkan geliat perekonomian di Palembang.

Baca Juga :  Sultan Mahmud Badaruddin II : "Harimau yang Tak Dapat Dijinakkan"

4. Bagi warga Sumsel umumnya dan Kota Palembang khususnya dapat memberikan hiburan di setiap bulan Agustus

5. Dengan ada Festival Bidar dan ada pelaku UMKM dapat melihat pertumbuhan ekonominya,”

Sejarah Lomba Bidar Palembang
Menurut Cerita Tokoh Palembang Kms H. Andi Syarifudin,M.Ag yang di kutip dari Cek Jun Channel Sejarah Lomba Bidar Palembang sebagai berikut :

Baca Juga :  Kapiten Bong Su dan Jejak Sejarah Pulau Kemaro: Warisan Perjuangan yang Terlupakan

Asal Muasal Perlombaan Bidar di Kota Palembang berawal dari kisah Tragis Putri Dayang Merindu.

Dikisahkan bahwa pada Zaman Dahulu tepatnya di masa Adipati Karang Widara memerintah Palembang beliau mempunyai Seorang Saudara bernama Ario Carang (Rio Carang), kedua bersaudara ini sering berselisih paham hai ini dikarenakan perbedaan keyakinan Agama dimana Ario Dillah telah memilih masuk ke Agama Islam, untuk mengurangi konflik akhirnya adiknya Ario Carang memilih untuk pergi ke luar Palembang dan menetap di daerah Uluan.

Berita Terkait

Sultan Mahmud Badaruddin II : “Harimau yang Tak Dapat Dijinakkan”
Kapiten Bong Su dan Jejak Sejarah Pulau Kemaro: Warisan Perjuangan yang Terlupakan
Berita ini 63 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 24 Oktober 2025 - 00:25 WIB

Sultan Mahmud Badaruddin II : “Harimau yang Tak Dapat Dijinakkan”

Rabu, 20 Agustus 2025 - 18:51 WIB

Sejarah Lomba Bidar Palembang dan Dampak Ekonomi dan Sosial Budaya

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 15:53 WIB

Kapiten Bong Su dan Jejak Sejarah Pulau Kemaro: Warisan Perjuangan yang Terlupakan

Berita Terbaru