Catatan sejarah Perang Palembang 1819-1821.
Perang Palembang 1819
- Periode Pertama, yakni
Perang pada periode pertama ini dimulai pada tanggal 11 Juni 1819, berawal dari sebelas serdadu Belanda memeriksa sisi luar keraton dan memicu terjadinya bentrokan senjata. Dalam insiden itu Haji Zain memimpin penyerangan terhadap serdau Belanda. Pertempuran antara kedua belah pihak tidak dapat dihindarkan. Sehingga dalam pertempuran itu Haji Zain, Kemas Said, dan Haji Lanang terbunuh.
Perang Palembang dimulai dengan serangan singkat terhadap pasukan Belanda pada pukul setengah empat pagi, 12 Juni 1819. Penyerangan tersebut merupakan serangan balasan atas insiden yang menewaskan seorang penduduk Palembang.
Melihat situasi tersebut, Mutinghe mengambil sikap dengan memerintah Mayor Tierlam untuk segera membawa pasukannya meninggalkan keraton Kuto Lamo. Mereka menghuni sebuah bangunan yang tengah dibangun untuk kebutuhan mereka. Pada saat mereka tengah menuju bangunan tersebut, mereka diserang oleh laskar Palembang sehingga meletuslah pertempuran.
Pertempuran kedua ditandai dengan enam buah rakit yang dibakar oleh lascar Palembang. Selanjutnya, terjadi baku tembak antara kapal-kapal Belanda dan laskar Palembang. Pasukan Belanda terjepit saat mereka mencoba mendekati gerbang keraton sambil membordir laskar Palembang.
Sementara itu pasukan Belanda yang ada di keraton telah kocar-kacir diserang tanpa bisa membalas. Tembakan meriam kapal ke arah benteng pun tak mampu menghancurkan tembok istana yang ketebalannya mencapai dua meter dan tingginya delapan meter.
Setelah menarik pasukannya, Mutinghe mengeluarkan intruksi untuk menyerang kubu-kubu pertahanan Palembang, namun sampai pagi dini hari 14 Juni 1819 tidak terjadi penyerangan terhadap kubu Palembang. Sebaliknya, Mutinghe mengirim utusan untuk mengusulkan perundingan agar berdamai dengan Pangeran Adipati Tuo. Akan tetapi, Sultan Mahmud Badaruddin II menolak berdamai.
Perang dalam periode pertama ini berakhir dengan mundurnya armada Belanda menuju Sunsang. Kemenangan ini memberikan semangat untuk terus mempertahankan keberhasilan tersebut bagi Palembang.
Terdapat beberapa tokoh yang ikut berperan dalam perang tersebut, yang termaktub dalam “Syair Perang Mutinghe”, antara lain Khabib Muhammad Saleh, Pangeran Puspawijaya, Pangeran Wirasentika, Pangeran Wiradiwangsa, Pangeran Puspadiraja, Haji Abdulrohim, Citrawijaya, Ranggadarpacita, Temenggung Citradinata, dan Haji Mas’ud.









