Oleh : Prof.DR.Paisol Burlian,S.H.,Mhum
(Penulis dan Pemerhati Sejarah Kesultanan Palembang, Guru Besar UIN Raden Fatah Palembang, yang sekaligus Dewan pakar DPD Barisan Adat Raja Sultan Nusantara Provinsi Sumatera Selatan Periode 2025-2030)
TRASNEWS.COM, PALEMBANG.- Mukaddimah, yang merujuk dari berbagai menjelaskan bahwa Palembang mulai muncul sebagai Kesultanan Palembang sekitar tahun 1659 dan pernah dipimpin oleh beberapa sultan, salah satu sultan yang terkenal pada masa pemerintahannya ialah Sultan Mahmud Badaruddin II yang mampu mengusir bangsa asing di Palembang.
Lebih lanjut, bahwa Sultan Mahmud Badaruddin II, yang beliau adalah sultan ketujuh yang memimpin pada tahun 1803-1821.
Lalu kemudian, yang kita telusuri lagi bahwa Sultan Mahmud Badaruddin II merupakan sultan yang sangat tangguh, beliau diakui oleh Belanda dan Inggris, karena sangat susah untuk menaklukkan Kesultanan Palembang dibawah kepemimpinannya.
Selanjutnya manakala pertama kali dilantik pada 1803, Sultan Mahmud Badaruddin II mengeluarkan policy (kebijakan) untuk terus meningkatkan dan memperkuat pertahanan Kesultanan Palembang Darussalam dengan cara mendirikan beberapa benteng pertahanan.
Rekam jejaknya kala itu, mula-mula benteng yang dibangun berada di hulu sungai Musi, yaitu di daerah Banyu Langu yang dipergunakan untuk menghadapi serangan bala pasukan musuh. Selain sebagai pertahanan, benteng juga digunakan untuk mengawasi aliran perdagangan dari daerah sampai ke pusat, sebagai tempat mendirikan gudang-gudang perbekalan, serta sebagai tempat mengatur siasat menghimpun kekuatan massa pada saat itu.
Berlanjut, saat itu pula dari perlawanan yang dilakukan oleh Sultan Mahmud Badaruddin II terhadap Belanda terlahir dari kesadaran bahwa untuk menjadi suatu kesultanan yang besar, maka Palembang harus mampu menjaga kedaulatannya sendiri dari intervensi-intervensi bangsa asing.
Maka dari itu, yang dalam hal ini Sultan Mahmud Badaruddin II berusaha untuk mencegah Belanda mencampuri segala persoalan yang terjadi di dalam lingkungan kraton. Selain itu, Sultan Mahmud Badaruddin II menghapuskan kebijakan pendahulunya, yaitu Sultan Komaruddin Wikramo (memerintah pada 1722) yang memberikan hak terhadap VOC untuk membeli dan memonopoli perdagangan timah di pulau Bangka dan Belitung.
Kilas balik, kita menyelusuri dalam sejarah, bahwa Peperangan yang terjadi di Kesultanan Palembang Darussalam pada tahun 1819 dahulu itu, merupakan sebuah rentetan peristiwa yang terjadi sebelum tahun 1819. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh orang-orang Belanda dan Inggris di Nusantara. Pengaruh Inggris terhadap Sultan Mahmud Badaruddin II telah lama berlangsung di Kesultanan Palembang Darussalam.
Ketika di masa-masa awal menjabat sebagai sultan yang baru, Inggris mencoba mendekati Sultan Mahmud Badaruddin II, guna melepaskan Pulau Bangka dan Pulau Belitung dan menyerahkannya kepada Inggris dengan imbalan diberikan senjata bagi Sultan Mahmud Badaruddin II. Keinginan Inggris untuk menguasai pulau Bangka dan Belitung disebabkan karena adanya timah yang merupakan salah satu komoditi paling diminati di Eropa. Selain itu, jika Inggris berhasil menguasai pulau Bangka dan Belitung, maka gerak pasukan Belanda dari Batavia yang akan menguasai Palembang kembali dapat diamati.
Selaku sultan dari sebuah kesultanan, sudah selayaknya Sultan Mahmud Badaruddin II memiliki pengetahuan dan wawasan ilmu pengetahuan yang sangat luas. Dalam perjalanan sebuah kesultanan tidak terlepas adanya konflik, baik dengan sebuah kelompok, kerajaan maupun dengan pemerintah kolonial Belanda. Demikian juga halnya selama menjadi pemimpin dari Kesultanan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin II juga tidak terlepas dari berbagai macam konflik atau peperangan. Baik itu konflik internal kesultanan maupun konflik dengan pemerintahan asing.
Jika mengamati salah satu konflik yang cukup besar dalam masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin II adalah konflik dengan pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1819 dan 1821. Dimana konflik ini dikenal dengan perang Palembang, yang merupakan perang terbesar di lautan pada akhir abad ke 19. Peperangan ini merupakan peperangan terbesar karena memakan banyak korban baik dari segi jumlah pasukan, senjata, alat perang dan keuangan.
Penulis mengajak pembaca untuk reorientasi masalah sosok Sultan Mahmud Badaruddin II dalam perang Palembang, karena dalam perang Palembang, bahwa Sultan Mahmud Badaruddin II, beliau adalah sebagai raja saat itu, yang sangatlah berperan penting bagi rakyatnya, guna menghadapi peperangan melawan pihak kolonial Belanda.









