Keraton waktu itu diperkuat dengan tujuh belas meriam dan dikelilingi oleh tembok yang tebal dan tinggi. Kehebatan pertahanan keraton terbukti dengan mampunya pihak Palembang menangkis serangan dari pasukan Belanda pada perang Palembang 1819.
Ketika kapal-kapal Belanda tiba di depan keraton, Sultan Mahmud Badaruddin II memutuskan untuk menempuh jalur peundingan. Diutuslah Pangeran Adipati Tuo untuk menemui de Kock diatas kapal Johanna. Dalam perundingan itu, Pangeran Adipati Tuo bersedia menyerahkan Sultan Mahmud Badaruddin II kepada pihak Belanda, dengan permintaan dirinya tetap diizinkan tinggal di Palembang. Akan tetapi, Mayor de Kock menolak tawaran tersebut.
Sementara itu, Pangeran Adipati Mudo menyatakan bahwa Sultan Mahmud Badaruddin II bersedia menyerah tanpa syarat, agar mencegah terjadinya pertumpahan darah. Sultan juga meminta penundaan waktu ke Batavia dengan alasan menyiapkan anak-anak, istrinya serta pengikut setianya yang akan menyertainya ke Batavia. De Kock mengabulkan permintaan tersebut dan dengan memberi waktu dua hari sultan harus membongkar semua meriam yang ada di keraton.
Selanjutnya, de Kock memerintahkan semua armada Belanda menutup jalur keluar masuk Sungai Musi untuk mencegah Sultan keluar dari ibukota Palembang. Berita kemenangan atas Kesultanan Palembang diterima Batavia pada 10 Juli 1821. Berita tersebut merupakan berita yang sangat ditunggu-tunggu oleh mereka.
Keberhasilan itu pula diumumkan dengan ditembakkannya meriam di hadapan pasukan Belanda sebanyak 101 kali tembakan. Para perwira dan serdadu dianugerahi penghargaan berupa lencana.
Berita kemenangan tersebut disambut antusias di sana. Menurut pihak Belanda, keberhasilan ini sangatlah penting bagi pengukuhan kekuasaan Belanda di Nusantara. Betapa pentingnya kemenangan perang ini bagi pihak Belanda, setelah menebus dua kali kekalahan dalam perang Palembang 1819.
Peranan Sultan Mahmud Badaruddin II dalam Perang Palembang, untuk menghadapi sebuah pemerintah asing, mereka memiliki alat perang yang jauh lebih unggul, Sultan Mahmud Badaruddin II memiliki pula banyak strategi yang ampuh.
Berdasarkan pengalaman para sultan-sultan terdahulu di Kesultanan Palembang Darussalam serta ajaran dari kakek dan ayahnya, Sultan Mahmud Badaruddin II ketika selesai dinobatkan menjadi seorang sultan, mengambil langkah untuk membangun banyak benteng sebagai bentuk pertahanan keamanan penduduknya serta sebagai tempat mengontrol perdagangan di wilayah kesultanannya.
Selain itu, Sultan Mahmud Badaruddin II juga dikenal sebagai seorang sultan yang bisa membangkitkan semangat pasukannya di medan perang. Melalui keterampilannya di bidang sastra, Sultan Mahmud Badaruddin II membuat sebuah syair yang bernama Syair Perang Menteng. Syair ini oleh Sultan Mahmud Badaruddin II digunakan untuk menyemangati pasukannya dalam pertempuran melawan Belanda di tahun 1819.
Dengan adanya sebuah penyemangat dan perjuangan dikala berperang, membuat pasukan Sultan Mahmud Badaruddin II meraih kemenangan di perang itu.
Dalam Perang Palembang 1821, Pasukan Belanda mengadakan serangan besar-besaran terhadap Palembang. Sultan Mahmud Badaruddin II dengan gigihnya mempertahankan Kesultanan Palembang. Sultan menggunakan perahu-perahu dayung yang dipesenjatai dan tonggak-tonggak yang dipasang di sungai, guna menghalangi pergerakan pasukan Belanda.









